Dalam beragama, sebetulnya kita tidak perlu menuduh orang, misalnya KH
Said Aqil Siradj, KH Quraisy Shihab, dr Joserizal Jurnalis sebagai Syi'ah.
Kenapa? Andai mereka benar Syi'ah, apakah anda masuk surga? Dan jika
bukan Syi'ah, bukankah anda berdosa dan masuk neraka? Tidak ada
untungnya.
Di dalam kubur dan di akhirat, anda tidak ditanyai apakah orang2 di atas
Syi'ah apa bukan. Tapi siapa Tuhan Anda, Apa kitab anda, Siapa Nabi
Anda? Kemudian anda nanti ditanya amal perbuatannya mulai dari 5 rukun
Islam seperti sholat, puasa, zakat, dsb itu benar atau tidak? Apakah
harta anda halal / haram? Apakah tangan dan kaki anda menyakiti orang
atau justru bermanfaat. Begitu.
Kita tidak ditanya mengenai dosa orang lain. Itu tanggung jawab masing2:
Bahkan terhadap kaum yang amat kafir dan ingkar sehingga kita niscaya
mereka dilaknat dan akan diazab Allah, kita tak perlu mencaci-maki
mereka atau menyembelih mereka jika tidak mau masuk Islam. Tugas kita
cuma menasehati dgn baik. Setelah itu lepas tanggung-jawab kita:
"Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa
kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab
mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami
mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya
mereka bertakwa." [Al A'raaf 164]
Mending kita belajar rukun2 Iman seperti Sifat 20, kemudian bacaan Al
Qur'an kita makhroj dan tajwidnya sudah benar atau belum. Jika belum
beres, tidak usah jadi hakim para ulama2 besar. Rukun Islam sudah
sempurna atau belum. Apakah sholat seperti sujud, ruqu, dan
tuma'ninahnya sudah beres? Coba hisab diri anda sebelum anda diperiksa
oleh Allah.
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama
Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian
putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas
perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung
duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki
Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha
Rasulullah Saw, seraya berkata, "Ya Muhammad, beritahu aku tentang
Islam." Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Islam ialah bersyahadat bahwa
tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan
shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila
mampu."
Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman." Rasulullah
Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar
baik dan buruknya."
Orang itu lantas berkata, "Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan."
Rasulullah berkata, "Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya
walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat
anda.
Dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang Assa'ah (azab kiamat)."
Rasulullah menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya."
Kemudian dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang tanda-tandanya."
Rasulullah menjawab, "Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya.
Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala
unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat."
Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah
Saw bertanya kepada Umar, "Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang
bertanya tadi?" Lalu aku (Umar) menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih
mengetahui." Rasulullah Saw lantas berkata, "Itulah Jibril datang untuk
mengajarkan agama kepada kalian." (HR. Muslim)

